Aceh Besar Miliki 8 Unit Mesin Pengering Gabah

Aceh Besar (20/2) | Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, A Hanan mengetes operasional mesin pengering gabah bantuan APBN 2018 di Desa Glee Jai, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, Rabu (20/2). Pemerintah memberikan 8 unit mesin pengering gabah untuk kelompok tani di Aceh Besar. “Mesin pengering ini harus dipelihara dan dikelola dengan baik agar operasionalnya berkelanjutan dan masa pakainya lebih lama, “ kata Kadistanbun Aceh, A Hanan dalam kegiatan pengetesan operasional mesin pengeringan padi di Desa Glee Jai, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, Rabu kemarin.

Pemerintah pusat memberikan bantuan mesin pengering padi ini, kata A Hanan, atas permintaan kelompok tani di Aceh yang mengeluhkan kadar air gabah saat musim panen masih tinggi, sehingga harga jual rendah.

Distanbun Aceh kemudian mengusulkan kepada Kementerian Pertanian di Jakarta untuk memberikan bantuan mesin pengeringan padi kapasitas 8-10 ton kepada anggota kelompok tani di Aceh. Pada 2018 Mentan kemudian menyahuti dengan memberikan bantuan mesin pengering padi kepada pemerintah Aceh sebanyak 23 unit, 8 unit di antaranya diberikan untuk anggota kelompok tani di Aceh Besar. Salah satu mesin pengering yang dibantu ini telah dites operasional perdana di Desa Glee Jai, Kecamatan Kuta Cot Glie.

Mesin pengering padi yang dibantu Mentan, kata A Hanan, hemat bahan bakar. Bahan bakar untuk pengeringan menggunakan sekam padi. Kendati mesin ini hemat bahan bakar, tapi harus dirawat dan dipelihara dengan baik.

Anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan satu unit mesin pengering padi kapasitas 8 ton/jam bersama gudang tempat operasinya cukup lumayan, mencapai Rp 750 juta. Sedangkan untuk kapasitas 10 ton/jam senilai Rp 950 juta/unit. Pembangunan gedung tempat mesin pengering padi ini tidak dikontrakkan kepada pihak ketiga, melainkan dibangun secara swakelola oleh kelompok tani. “Tujuannya agar mereka merasa memiliki dan gedung tempat mesin pengering padi ini dibuat yang berkualitas,” ujar A Hanan.

Untuk pengelolaan mesin pengeringan padi ini, kata A Hanan, kelompok tani di Desa Glee Jai, bisa menggunakan dana desa, yang rata-rata memiliki dana antara Rp 650 juta hingga Rp 1,2 miliar. Dari jumlah dana desa yang diterima, mulai tahun 2019 ini difokuskan 70 persen untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin.


Mesin pengeringan padi ini bisa dijadikan salah satu unit usaha desa (Bundes). Dananya bisa diambil dari pos dana desa untuk pemberdayan ekonomi masyarakat miskin. Setiap anggota kelompok tani yang ingin kadar air gabah turun dari 21 persen menjadi 14 persen, akan dikenakan jasa pengeringan. Besarannya ditetapkan sesuai kesepakatan masyarakat desa setempat.


Ketua Kelompok Tani Pemuda Tani Mandiri Desa Glee Jai, Farurazi kepada Serambi mengatakan, mesin pengering padi ini sangat membantu petani. Sebelum ada mesin pengering, padi dari Desa Glee Jai dibeli pedagang pengumpul dengan harga Rp 4.400/kg, mengingat kadar air masih 21 persen.


Kepala Dinas Pertanian Aceh Besar, Dr Azhar mengatakan, mesin pengering padi ini tidak hanya digunakan untuk menurunkan kadar air padi, tapi juga biji jagung dan tanaman pangan lain. Kapasitasnya hanya 8 ton/jam, tapi jika digunakan secara rutin, bisa menghasilkan uang puluhan juta rupiah per hari. Pemerintah membantu mesin pengering padi sebanyak 8 unit untuk kelompok tani di Aceh Besar. [◦ˆ⌣ˆ◦]

Sumber : https://distanbun.acehprov.go.id/index.php/news/read/2019/02/22/510/aceh-besar-miliki-8-unit-mesin-pengering-gabah.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *